POROZ.ID, JAKARTA – Lembaga Zakat, Infak, dan Shadaqah Muhammadiyah (LazisMu) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar diseminasi riset berjudul “Dimensi Islam Berkemajuan dalam Pengelolaan ZISKA di Muhammadiyah”, Jumat (1/9).
Menurut Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais, diseminasi ini dimaksudkan untuk menjalankan aspek ideologis Risalah Islam Berkemajuan lewat pengelolaan dana umat sesuai prinsip good governance, profesionalisme, dan memiliki inovasi yang membuat manfaatnya terasa luas pada masyarakat. Riset sendiri berkisar pada tiga pokok.
“Pertama adalah bagaimana menerjemahkan Risalah Islam Berkemajuan untuk memperkuat paradigma, metode, strategi, dan narasi tata kelola ZISKA di Muhammadiyah. Kedua, bagaimana keterjalinan antara gagasan Islam Berkemajuan dan fungsinya untuk menopang tajdid dalam tata kelola ZISKA di Muhammadiyah. Terakhir, bagaimana desain yang mungkin untuk mengakselerasi inovasi tata kelola ZISKA Muhammadiyah melalui Lazismu,” ungkap peneliti MPKSDI PP Muhammadiyah, Fauzan Anwar Sandiah yang turut menyusun kajian riset tersebut bersama Divisi Research and Development (R&D) Lazismu PP Muhammadiyah.
Menurut Dewan Pengawas Syariah Lazismu PP Muhammadiyah, Dadang Syaripuddin, kajian riset ini mengingatkan agar Risalah Islam Berkemajuan tidak boleh berhenti hanya sebatas rumusan, namun harus diturunkan ke tingkat implementasi program-program di persyarikatan. Salah satunya adalah dalam pengelolaan ZISKA.
“Hakikat Islam Berkemajuan adalah Islam yang diinterpretasi dan diimplementasikan bagi umatnya, baik yang sifatnya individual maupun kolektif,” ucapnya. Dalam implementasinya, apakah kemaslahatan atau manfaat dapat secara luas dirasakan atau tidak.
Sementara itu mewakili Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah, Ibnu Tsani, merekomendasikan beberapa hal yang harus dijalankan oleh Lazismu berdasar hasil kajian riset ini. Rekomendasi tersebut meliputi aspek gerakan dakwah, kompetensi amil, syariah, dan kelembagaan. Selain itu, Lazismu pun harus mendefinisikan ulang kemiskinan.
Saat ini, menurut Ibnu Tsani, kemiskinan tidak lagi berdasarkan pendapatan seseorang. Bukan hanya aspek apakah seseorang menjadi miskin karena pendapatannya di bawah nilai tertentu. Akses air, sanitasi, listrik, dan lain sebagainya kini telah menjadi instrumen dalam mendefinisikan kemiskinan.
“Kalau selama ini kita disajikan oleh data dan teori bahwa kemiskinan itu didefinisikan melalui pendekatan moneter. Sekarang trennya berubah, kemiskinan itu konsepnya melalui pendekatan kemiskinan yang diperluas,” kata dia.
Sebagai pembicara kunci, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief menegaskan bahwa gerakan filantropi di dalam Persyarikatan Muhammadiyah dapat berkembang lebih baik lagi. Selain kenyataan bahwa Muhammadiyah tidak lepas dari gerakan filantropi, ekosistem filantropi dalam gerakan ini harus dibangun dengan baik.
“Untuk tahun-tahun ini kita didorong melakukan dan membuat banyak sinergi serta kerja sama, bagaimana kita merekonsiliasi program-program yang berbeda antar majelis dan lain sebagainya. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” ujar Hilman yang juga pendiri POROZ (Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat) ini.
Gerakan Islam Berkemajuan, lanjut Hilman, tidak lepas dari gerakan dakwah, tajdid, ilmu, dan amal. Tugas kita adalah mengombinasikan gerakan tersebut secara bersamaan. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh gerakan filantropi Muhammadiyah juga harus mulai meningkat, bergeser dari pola-pola lama kepada pola-pola baru yang lebih menantang, mudah dieksekusi, dan lebih cepat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Hilman pun berpesan agar Lazismu harus memiliki pilot project untuk pemberdayaan. Rencana yang kuat harus disiapkan, seperti membuat agenda perubahan untuk Lazismu 5 tahun ke depan, menentukan tolok ukur sehingga bisa melihat apa yang dihasilkan. Lazismu pun harus membuat ‘grand design’ untuk pemberdayaan tersebut, sehingga bisa melihat, mempelajari, mengevaluasi, dan mengembangkannya.
“Saya mendorong seluruh jajaran Lazismu, mulai sekarang kita imajinasikan bahwa proyek perubahan Lazismu tidak dilakukan sendirian, tapi juga dilakukan dengan majelis lain. Apa sih yang bisa kita buat? Selama ujungnya adalah untuk penguatan masyarakat, saya kira inovasi yang dilakukan harus didorong. Jangan takut berinovasi, salah lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa,” ajaknya. (afn)
sumber: